Find us on facebook

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 10 Desember 2015

Pulang




Menyusuri jalan setapak ini seperti kembali ke sepuluh tahun lalu
Seorang gadis remaja dengan rambut dikepang dua
Melangkah, kadang  tegap, lebih sering menunduk malu
Menyembunyikan bulir air mata  dan dendam yang meluap di dada
Siapakah dia?

Rabu, 09 Desember 2015

Bermain Riddle di Kelas Matematika!


Seminggu belakangan, di sekolah tempat saya mengjar heboh dengan Riddle. Bukan! Ini bukan Tom Riddle yang ada di film Harry Potter. Tidak ada hubungannya sama sekali. Riddle yang sedang heboh di sekolah saya ini adalah tebak-tebakkan. Dan semua itu bermula dari saya memang. 

Jadi ceritanya, ketika hendak mengajar, saya melakukan ice breaking ringan dulu. Bermain tebak-tebakan. Kebetulan malam sebelumnya, saya dan teman-teman di grup WA juga melakukan hal yang sama, maka di kelas Matematika yang saya ampu, nggak ada salahnya saya coba. Toh tebak-tebakan yang saya berikan, menurut saya bagus sebagai nutrisi otak. Anggap saja sebagai food brain. 

Di kelas itu, tebak-tebakan yang saya berikan terbukti manjur! Anak-anak tidak mengantuk dan senang. Berikut beberapa tebak-tebakkan yang saya berikan: 

Selasa, 08 Desember 2015

Beresin Indonesia

Sebagian dari kita mungkin pernah (atau selalu?) mengeluh tentang “sesuatu” bernama Indonesia. “Sesuatu” itu bisa diganti dengan apa saja. Bangsa, tanah air, rumah, atau bisa saja kamp konsentrasi. You name it

Keluhan-keluhan muncul karena kompleksnya masalah dari jumlah penduduk yang tidak imbang dengan pemahaman dan kesadaran masing-masing tentang nilai dan norma hidup bergerombol itu. Sadar tak sadar, ada kita sebagai individu dan kelompok di dalamnya yang menyumbang kecil-kecilan perilaku non-etis lagi merugikan. Hal-hal kecil dan negatif yang pada akhirnya membudaya.  

Koentjaraningrat menyebutkan mentalitas negatif masyarakat Indonesia yang terdiri atas: sifat mentalitas yang meremehkan mutu, suka menerabas, tidak percaya pada diri sendiri, tidak berdisiplin murni, dan suka mengabaikan tanggung jawab yang kokoh.  Mentalitas yang mudah sekali kita temui di sekitar kita dan jika diuraikan akan menjadi keluhan tanpa ujung.

Dalam kapasitas ini, saya tidak ingin menambah beban teman-teman soal apa saja yang membuat kondisi makin berantakan. Mengeluh dan mengkritik saja tanpa upaya progresif sama sekali tidak menambah kualitas nilai pribadi yang positif. Saya yakin dalam halai balainya situasi bangsa kita, warga yang cinta negerinya pasti berharap agar tercapai perubahan yang lebih baik. Tanpa koruptor. Tanpa macet. Tanpa sampah. Tanpa resah. Terwujudnya masyarakat yang ekspresif juga beradab. Tapi, niat yang baik saja tak cukup, butuh kerja sama masif untuk bergerak dan memperbaiki menuju perubahan itu. Musim saja berubah untuk keseimbangan alam, masa’ kita tidak?.

Berikut ini tiga alternatif dimana kita bisa menemukan putra-putri yang mau beresin Indonesia. Jika saja kita bingung memulai dari mana, semoga yang mereka lakukan memberi inspirasi, aha moment!  untuk turut mengambil peran sesederhana apapun. Optimisme, kreatifitas, dan keberanian mendampingi Indonesia selayaknya bangsa, tanah air, atau rumah nyaman bagi rakyatnya.

1. http://www.indonesia.travel/
 

Situs yang dikelola pemerintah ini mendokumentasikan semua kekayaan alam dan fakta penting yang membentang di Nusantara. Kita punya sumber daya yang tidak ada bandingannya. Apa yang bisa kita lakukan untuk membuatnya diperhitungkan di mata internasional?. Sebagiannya mungkin pernah kita kunjungi tapi lebih banyak lagi yang belum. Panorama indah dan aneka ragam hayat yang terkandung di dalamnya kiranya membuat kita tak akan sanggup berpaling ke lubuk lain, semacam ingin menjaganya sampai titik nadir.

 2.      http://www.goodnewsfromindonesia.org


                      
GNFI adalah kumpulan orang-orang yang ingin menyampaikan kabar-kabar baik tentang Indonesia. Mengetahui ada banyak kabar baik juga dari negeri ini tentunya akan bikin kita lebih positif melihat peluang yang bisa dicapai di masa depan.

 3.      https://kitabisa.com/ 
Website ini merupakan wadah penggalangan dana bersifat online yang menggugah siapa saja untuk berbuat, entah dengan menjadi relawan di lapangan atau donatur atas isu-isu yang berkembang demi menciptakan perubahan yang diinginkan. Laman ini sudah mengumpulkan 6,84 miliar rupiah, mendanai 536 inisiatif, dan mengajak 34.928 relawan dan donatur.
 “Bangsa ini kenyang perkataan. Tunjukkan aksi konkrit Anda dengan menggalang dana untuk hal yang berarti bagi Anda."

 https://kitabisa.com/wesavemoromoro 
sudah mengumpulkan 20jt dari target 70 jt

"Sejumlah 400 anak usia sekolah (SD-SMP) di Moro-Moro, Mesuji, Lampung, terancam putus sekolah. Penyebabnya karena sekolah mereka berlokasi di Register 45, sebuah wilayah konflik agraria di kabupaten Mesuji, Lampung. Wilayah ini adalah lahan tidur yang ditinggalkan sebuah perusahaan pemegang konsesi Hak Pengelolaan Hutan Tanaman Industri (HPHTI) pada tahun 1996-1997 karena dampak krisis moneter. Sejak saat itu hingga sekarang (18 tahun lamanya) masyarakat membangun kampung bernama Moro-Moro. Mereka mendirikan sekolah, tempat ibadah dan posyandu secara swadaya. Mereka juga telah menghijaukan lahan seluas 2.400 hektar yang dulu hanyalah hamparan alang-alang."


                  berhasil mengumpulkan 352.192.689 dari target 300jt
"Bertahun-tahun tinggal di Indonesia membuat saya sadar bahwa begitu banyak orang yang kurang beruntung. Mereka tidak bisa mencapai mimpi karena berbagai keterbatasan. Karena itu saya memutuskan untuk melakukan #BecakTerus, sebuah aksi galang dana untuk mendukung 4 yayasan di Indonesia yang aktif dalam berbagai perubahan sosial."






















Senin, 07 Desember 2015

Jubah Merah

Ruangan tersebut tampak begitu terang, tetapi tak begitu adanya pada hati sesosok pemuda yang berkaos merah dan bercelana jeans pendek itu. Lelaki berumur 20 tahunan tersebut tengah meratapi hidupnya yang tak bergairah di sudut ruang tamu. Di tempat yang tak jauh, seorang pria paruh baya terlihat asyik menyaksikan siaran televisi tentang persidangan etika seorang anggota dewan. Sesekali dia mengelap keringatnya meski di dalam suhu udara terasa dingin. Di sampingnya, terlihat seorang wanita terpejam dengan kepala bersandar di dada pria itu.

Hampir satu bulan lamanya pemuda tersebut meminta dibelikan sebuah barang, tetapi sampai sekarang orang tuanya tidak pernah mengabulkan. Laki-laki itu bingung. Ayahnya adalah seorang yang kaya raya, tetapi sebuah jubah berwarna merah saja seakan sulit sekali mereka berikan, bahkan untuk anaknya sekalipun.

“Syamsul, cari saja hal lainnya. Jangan minta yang aneh-aneh,” sebut sang ayah menanggapi permintaan anaknya yang dinilai tak wajar.

Anak itu pun mengernyitkan dahi. Mengapa tidak untuk jubah merah? Ada apa dengan barang itu? Dia sendiri memang pernah diberitahukan ibunya bahwa benda itu pernah membuat ayahnya itu trauma. Namun, ia tak mempercayainya.

“Saat pergi ke Jepang, ayahmu pernah bertemu dengan sesosok hantu penunggu toilet. Hantu itu bertanya tentang warna merah dan biru yang mesti dipilih. Menurut hantu itu, jika warna merah yang dipilih ayahmu, hantu itu akan segera mencabik-cabik tubuh ayahmu hingga darah merah segar bersimbah. Namun, jika biru yang dipilih,  sang hantu akan mencekik leher ayahmu dan menghisap darahnya hingga kulit dan wajah terlihat biru legam. Dan kamu tahu, hantu penunggu tersebut memakai jubah merah.” tandas sang ibu

Pemuda itu sendiri tak mempercayai kalimat sang ibu tadi. Cerita menyeramkan itu tak ubahnya seperti sebuah dongeng pengantar tidur anak-anak. Padahal, lelaki ini sudah 20 tahun. Kenapa tidak  saja langsung dikatakan bahwa dua di antara kami: aku atau ayah ‘pergi’ dari dunia ini agar permasalahan atau konflik jubah ini selesai. Tak ada lagi perdebatan.

"Kenapa kau tak membeli sendiri saja jubah itu?" tanya temanku beberapa hari lalu.
"Aku bisa saja melakukannya, Temi. Aku bisa mencarinya sekarang juga. Namun, ini soal janji ayahku. Aku ingin dia menepatinya di tengah kesibukan dia yang tak jelas sebagai politisi Senayan."

Siang ini, Syamsul bergegas ke kamar atasnya dan terpojok di sudut ruangan 3x4 meter itu. Hal itu cukup menenangkan hatinya untuk sementara dari hiruk pikuk ketidakpedulian orang tua kandung. Dari dalam kamar, suara perdebatan sinis televisi sesekali mengundang cemoohan dan cibiran sang ayah. Sesekali sang ayah berkelakar dan menyebut dengan kata-kata seperti bodoh, pengkhianat, pembohong, dan lain sebagainya di depan televisi. Padahal, dia sendiri juga secara tak sadar sedang membodohi anaknya dengan janji palsu. Pemuda itu masih terngiang perkataan ayahnya satu bulan lalu saat menerima informasi dari sekolah bahwa dia juara kelas.

Katakan apa yang Engkau inginkan, Nak?
“Jubah merah” jawab sang anak tegas.

Sejak saat itu, muka orang tuamya berubah menjadi datar. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Dia mengalihkan topik untuk mengajak kami berlibur ke Bali. Namun, pemuda itu menolaknya. Baginya pemberian jubah merah akan menjadi hal terbaik yang pernah dia dapatkan. Bukan hal yang lain. Pemuda itu sendiri tak tahu mengapa. Namun itulah yang disebut obsesi. 

Pemuda itu buru-buru turun dari kamar atasnya. Dia melihat ke arah ruang tamu. Televisi masih memancar dan justru hanya melihat ibu terbaring sendirian di sebuah karpert berwarna merah. Namun, diai tak menemukan sosok ayahnya. Ke mana dia?

Dia solat, syamsul. Pergi ke mushola depan.
             
Tak lama berselang, sore itu seisi komplek geger dengan ditemukan sejumlah mayat yang terbujur kaku tepat 200 meter dari pintu lintasan kereta api. Berita elektronik langsung menyiarkan secara langsung kejadian tragis tersebut. Sebuah bus metro mini dihantam tanpa ampun oleh kereta api hingga menewaskan belasan orang.

Namun, yang menjadi fokus pemberitaan itu adalah ditemukannya sebuah jenazah yang berposisi tengah mendekap erat sebuah kado berwarna merah tua. Di atasnya, terdapat sebuah tulisan rapi .

Untuk anakku tercinta, Syamsu. Kenakanlah jubah merah ini. Jangan nodai jubah ini kelak dengan darah dan air mata para korban yang tak bersalah. Selamat ulang tahun, Nak. Ayah sayang kamu.

Pemuda itu menyaksikan berita tersebut dengan hati yang remuk. Dia pun bergegas bersama ibunya untuk mendatangi lokasi kejadian yang tak jauh dari rumah mereka. Sesampainya di tempat, pemuda itu menatap  seonggok tubuh yang masih  hidup beberapa jam lalu di rumah, tetapi kini sudah terbujur kaku. Sehelai gamis layaknya jubah terkoyak, tetapi masih melekat di tubuh kurus itu. Pakaian tersebut kini ternoda oleh bercak darah merah segar yang makin lama makin menutupi warna putih dasarnya.

Pemuda itu menengok ke arah sang ibu. Dia berusaha menahan tangisnya. Sang ibu kini menatap anaknya tajam. Giginya gemeretak. Matanya bak elang yang ingin menerkam mangsanya. Tatapan mereka kemudian beradu. Sang ibu mendekatkan mulutnya ke arah telinga anak itu dengan berbisik.

Syamsul. Selamat, kini kau mendapatkan jubah merah yang kau inginkan.

Tangis pemuda itu pecah seketika.






 

KECEMPLUNG


“Dek, kamu kenapa mau masuk jurusan Elektro?” kataku kepada salah satu MABA (Mahasiswa Baru)
“Kecemplung bang”, jawabnya
“WHAAAAATTT???” kataku

Di lain waktu
“Dek, kenapa mau masuk Elektro?” kataku pada MABA yang lain
“Disuruh orangtua bang”. Jawabnya
“Hmmmm....”, kataku

Lain waktu berikutnya
“Dek, kenapa masuk Elektro?” kataku
“Saya seneng Elektro dari SMP bang”, jawabnya
“Bagus-bagus”, kataku

************************

Setiap hal membutuhkan motivasi. Salah satunya dalam memilih jurusan pada satu Universitas. Ketika memilih pasti banyak faktor yang dipertimbangkan, baik dari dalam maupun dari luar dirinya. Entah itu dorongan dari orangtua, keluarga, teman, diri sendiri, ataupun hal lainnya.

Saat ini Anda pasti sudah mulai memasuki tahap menjadi mahasiswa baru bagi Anda yang baru lulus sekolah. Apapun motivasi Anda, apapun alasan Anda memasuki jurusan tersebut. Ada satu hal pesan dari saya.

PUTUSKAN MULAI SEKARANG.....!!!!!

Putuskan!!! Apakah Anda akan terus di jurusan tersebut atau pindah jurusan. Jangan setengah-setengah. Bagi Anda yang merasa “kecemplung” di jurusan Anda sekarang, putuskan!!! apakah Anda memilih tetap di sini atau pindah. Karena tidak baik hal yang setengah-setengah. Akan berat ke depannya jika Anda tidak serius menjalaninya. Jika Anda ingin tetap di sini, buat dan paksa diri Anda nyaman di sini. Kalau Anda ingin pindah, pilihlah sesuai dengan minat dan kesenangan Anda.

Demikian...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More